CARA MENYUSUN SKRIPSI DENGAN BENAR
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai “karangan
ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis”. Buat
sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian
mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi
mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin
skripsi”.
Saya
juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi
dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis
tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab
saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang
lain.
Karena
target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih
memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan
terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/ penelitian. Jadi, jangan menanyakan
saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate,
cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil,
dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.
Apa itu Skripsi
Saya
yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan
di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian
untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah
satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).
Ada
beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis
skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri,
tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa
harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif
semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum
“berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk
mempersiapkan segalanya sejak awal.
Skripsi
tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen
pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan
penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan
terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).
Skripsi juga
berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi,
mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru.
Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi
teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara
untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”.
Jadi,
skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu
disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.
Miskonsepsi tentang Skripsi
Banyak
mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa
dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi
adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik.
Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran
atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi
mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya
daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.
Masalah
yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor
ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran
mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan
menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk
menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk
mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.
Hal lain
yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi
dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan
naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai
struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga
menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach)
umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori,
hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode
eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.
Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.
Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.
Hal-hal yang Perlu Dilakukan
Siapkan
Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri.
Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya
dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk
menghadapi tantangan/ hambatan seberat apapun.
Minta
Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau
Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota
keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi
untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan
teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar.
Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk
menyelesaikan skripsi.
Buat Time Table. Ini penting agar penulisan
skripsi tidak telalu time-consuming. Buatplanning yang jelas mengenai kapan
Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda
melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah
benar-benar selesai.
Berdayakan
Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk
mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda.
Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui
provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.
Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.
Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.
Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat
“ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi
dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda
tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati
sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar,
tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah
merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.
Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan
jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau
menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau
dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan
besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan
tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.
Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana
yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses
internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli
suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden,
dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan
dana. Ironis kan?
Tahap-tahap Persiapan
Kalau
Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan
judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat
dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah
begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena
segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.
Sayangnya,
kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas
mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal.
Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.
Idealnya,
skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester
tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih
topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan
informal.
Dalam
mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur
kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top
berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper
yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.
Unsur
kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama,
topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen
pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya
sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk
menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.
Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam
waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun
sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun
sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi
yang bertahun 1970-1980.
Salah
satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja
proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara
garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi
guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur
nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda
mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa
menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan
benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.
Kiat Memilih Dosen Pembimbing
Dosen
pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada
di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda
selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing
yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang
membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan
menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang
mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.
Tiap
universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini.
Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga
universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja
lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi
Anda.
Lalu,
bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?
Secara
garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen
junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar
doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya,
dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master,
dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.
Tentu
saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai
contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan
mengalami kesulitan sebagai berikut:
• Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
• Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.
Tapi, keuntungannya:
• Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
• Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
• Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.
Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.
• Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
• Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.
Tapi, keuntungannya:
• Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
• Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
• Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.
Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.
Tapi,
kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi.
Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa
dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak
berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.
Jadi,
hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.!!
Format Skripsi yang Benar
Biasanya,
setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil
penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas
dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi,
secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai
berikut:
Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan
tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan,
tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi
yang akan diberikan dari penelitian ini.
Pengkajian Teori &
Pengembangan Hipotesis.
Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian
dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian
ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga
mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya
terasa kurang make sense dan nggak nyambung.
Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data
yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel,
bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian
yang diacu, dan sebagainya.
Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil
pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik,
pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang
diajukan.
Penutup. Berisi ringkasan, simpulan,
diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan
didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus
menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis
yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran
untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada
penelitian ini.
Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk
memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak
penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second
opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal
baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman
Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang
pendidikannya serupa dengan Anda).
Beberapa Kesalahan Pemula
Ketidakjelasan
Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya
singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang
permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang
menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit
untuk dipahami.
Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis
“sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan
risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji,
mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan
untuk mendapatkan gelar S1.
Bab I: Bagian Terpenting. Banyak
mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah
bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika
nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut
saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi,
tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab
berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)
Padding. Ini adalah fenomena yang sangat
sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan
dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya
menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang
menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata
tidak ditemukan dalam daftar acuan.
Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian
hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode
yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang
diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula
dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa
skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah
satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.
Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa
membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah
sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan)
karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan
dana, atau sempitnya waktu.
Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika
penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak
sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang,
termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa
korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan
dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan
dana sponsor.
Menghadapi Ujian Skripsi
Benar.
Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral
examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi
ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri
tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang
pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.
Setelah
menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji.Biasanya
dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji.
Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi
dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara
bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang
sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga
1 jam.
Ujian
skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji
sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu
saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core
courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun
teknis.
Grogi,
cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya
tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian
skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda
melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak
grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akanperform well.
Cara
terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang
Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan
tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang
jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja,
Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampakoutstanding di
hadapan dewan penguji.
Juga,
ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau
menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat
membantu.
Pasca Ujian Skripsi
Banyak
yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke
tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan
teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda
sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.
Faktanya,
lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa
melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?
Cara
paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian
dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin
serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi
Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak
penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa
ini.
Bukan
apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam
menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang
tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat
publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar
ketertinggalan.
Jadi,
menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?
semoga
bermanfaat untuk kita semua…amiin.GOD BLESS US



0 comments:
Post a Comment